menu tentang kami | daftar | kontak | ketentuan layanan | peta situs
halaman muka
harian
 Berita
 Agenda
 Lowongan Kerja
katalog
solusi
 Solusi TI
 Marketplace
 Stock Lot
bantuan
 Download
 Link
 Forum
member login
userid :
password :

 daftar anggota

artikel lengkap

Pashmina
(Republika.co.id, 11 November 2004)

Timur memang kaya gaya, bahkan menjadi mahal. Bahkan Barat pun menggandrungi selera oriental kendati era ini mereka tengah menyenangi efek spesial dan teknologi tinggi. Lembaran-lembaran wol kashmir yang diolah menjadi syal, scraf, selendang dan mantel menjadi bukti itu.

Butik-butik mewah yang bertebaran di Amerika Utara dan kota-kota besar di Eropa mengisi rak dan manekin mereka dengan hasil kreatifitas manual yang ditenun dari kulit kambing hutan Pegunungan Himalaya ini yang biasa hidup di wilayah terpencil di Dataran Tibet.

Pashmina yang dikutip dari kata Persia ini merupakan sebutan untuk bahan wol kashmir. Nama Kashmir ini menjadi kenangan bagi sebutan wol terbaik dunia tersebut. Lebih dari ribuan tahun wol kashmir telah ditenun menjadi syal dan selimut dan dihargai dengan royalti. Orang biasanya menyukai wol ini karena lembut, hangat dan tahan lama.

Berabad-abad yang lalu, Kashmir menjadi sebuah daerah yang mendapat hak eksklusif dari Maharaja Kashmir sebagai pusat menenun serat menjadi syal untuk menyuplai pashmina Tibet. Namun, saat ini kebanyakan syal pashmina dunia ditenun dengan perkakas manual di Lembah Kathmandu Nepal. Selain diproduksi manual, sekarang pashmina juga telah ditenun secara mekanik. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi permintaan selain untuk lebih menyeragamkan produk. Tapi, pashmina buatan tangan diyakini tetap lebih unggul karena dinilai lebih orisinil.

Tahun-tahun belakangan pashmina telah dicampur sutra untuk menghasilkan variasi produk yang kemudian didesain menjadi ini berbagai busana indah.
Dengan teknologi pencampuran warna, variasi warna pashmina pun mencapai ratusan yang sebagian besar didasarkan pada warna-warna alam, seperti warna bunga, bulu-bulu halus burung, mineral, daun-daun di musim gugur dan lainnya. Pashmina juga diberi aksentuasi lain, seperti rumbai, motif tumbuhan (seperti pakis, bunga, daun) dan motif binatang, misal belang harimau.

Kualitas pashmina itu ditentukan oleh kualitas wol kashmir itu. Kebanyakan bahan baku pashmina berasal dari kulit dalam kambing Capra Hircus di Tibet dan pedalaman Mongolia. Kambing jenis ini merupakan sumber bahan baku pashmina yang hidup di ketinggian lebih dari 14 ribu kaki di atas permukaan air laut dan suhu ekstrem, kadang-kadang dibawah 30 derajat Celsius saat musim dingin.

Pashmina persisnya dibuat dari kulit halus dibawah bulu kasar luar, terutama di bagian perut. Tiap kambing hanya menghasilkan hanya sekitar tiga ons atau 90 gram wol pashmina tiap tahunnya. Biasanya setiap syal tenun memerlukan bahan wol dari tiga ekor kambing.

Pashmina yang total wol terbuat seratus persen dari bahan wol Kashmir, sedangkan yang campuran dengan sutra biasa memiliki formula 70 persen wol kashmir dan 30 persen sutra. Karena berasal dari bahan wol berkualitas dan proses pembuatannya yang telaten secara manual menjadikan pashmina memiliki harga yang relatif mahal. Untuk selembar scraft saja harga yang ditawarkan sedikitnya Rp 300 ribu, sedangkan untuk pashmina panjang atau mantel dapat mencapai jutaan rupiah per lembar.

Proses menenun pashmina biasanya diturunkan dari generasi ke generasi sebagai seni tersendiri. Untuk membuat selembar syal, seorang perajin harus memiliki kesabaran, telaten dan dedikasi dari menenun serat hingga menghasilkan sebuah hasil ketrampilan tinggi.

Pembuatan aksentuasi pashmina berupa rumbai tepi mungkin menjadi tahap yang paling menarik dalam proses pembuatan sebuah syal. Karena perajin i memerlukan waktu berjam-jam untuk menghasilkan rumbai helai demi helai pada tiap pashmina.

Proses pencelupan pashmina juga dilakukan secara manual. Pencelupan ini juga membutuhkan kesabaran dan yang melakukannya biasanya orang yang berpengalaman dalam hal ini. Adanya kelalaian kecil saja dapat mempengaruhi kualitas produk. Pencelupan ini menggunakan bahan-bahan alamiah sehingga pembuatan produk pashmina ini pun bisa disebut ramah lingkungan.

Pashmina mudah untuk dikenakan dan lebih sering terlihat saat udara terasa basah dan dingin, dalam perjalanan, atau pada waktu sore di musim semi. Selain itu, sebagian orang merasa lebih nyaman menggunakan pashmina saat bermeditasi guna menjaga kehangatan tubuh mereka.

Masyarakat penikmat mode juga tak jarang menggunakan selendang pashmina untuk pergi ke pertunjukan opera, menonton bioskop, atau menghadiri peristiwa istimewa lainnya, seperti pesta pernikahan atau upacara kelulusan. Mengenakan pashmina layaknya seperti memasangkan bulu-bulu ringan sebagai balutan bahu atau belitan leher. Selendang dan syal pashmina ideal juga sebagai kado atau hadiah istimewa untuk pasangan pengantin.

Desainer pun melirik pashmina untuk dirancang sebagai jaket dan mantel panjang (overcoat) atau bahkan sebagai pelengkap busana kasual. Dalam beberapa koleksi busana, pashmina juga dijadikan bahan utama atau sekedar sebagai kombinasi bahan.

arsip
Arsip Artikel
pencarian
Cari Artikel

artikel baru
Pashmina
(Republika.co.id 09 November 2004)
Jeans....Jeans... Always In Fashion !
(Kompas.co.id 27 Oktober 2004)
Membawa Tenun Sabu Ke Dunia Luar
(Bisnis Indonesia 23 September 2004)
Reaksi Menjelang Berakhirnya Kuota TPT, Bagian terakhir dari tiga tulisan
(Bisnis Indonesia 16 September 2004)
Reaksi Menjelang Berakhirnya Kuota TPT, Bagian kedua dari tiga tulisan
(Bisnis Indonesia 15 September 2004)
Reaksi Menjelang Berakhirnya Kuota TPT, Bagian kesatu dari tiga tulisan
(Bisnis Indonesia 15 September 2004)
Industri Tekstil Indonesia Bisa Bangkit Lagi Dengan "E-Business"
(Kompas.co.id 22 Juli 2004)
Habisnya Kuota TPT, Habisnya TPT Kita?
(Kompas 22 Desember 2003)
Menyimak Pasar Industri Kecil Garmen
(Bisnis Indonesia 13 Mei 2003)
Komitmen Terhadap Industri TPT Kian Langka
(Chamdan Purwoko 22 April 2003)

© 2000 textile.web.id